Ampyang Maulid terdiri dari dua kata yaitu “Ampyang” dan “Maulid”. Menurut sesepuh Desa Loram Kulon “Ampyang” adalah jenis krupuk yang terbuat dari tepung, berbentuk bulat dengan warna yang beraneka macam.

Oleh masyarakat Desa Loram Kulon pada waktu itu krupuk tersebut dijadikan sebagai hiasan sebuah tempat makanan berbentuk persegi empat, terbuat dari bambu, kayu dengan bentuk tempat Ibadah agama Islam seperti miniatur Masjid, Musholla, Rumah adat dan lainnya yang bagian pojoknya diberi hiasan spesifik bunga “Jambul” yaitu bambu yang diserut hingga mlungker-mlungker (melingkar-lingkar) kemudian diberi berbagai macam warna.

Didalamnya berisi Nasi dan Lauk pauk yang kemudian diusung ke Masjid Wali At Taqwa Loram Kulon setiap tanggal 12 Robi’ul Awwal untuk memperoleh berkah.

Sedangkan kata “Maulid” adalah berasal dari bahasa Arab Walada menjadi bentuk masdar Maulidan yang artinya kelahiran. Jadi kata Ampyang bila dirangkai kata Maulid sehingga menjadi Ampyang Maulid mempunyai arti makanan yang ditata sedemikian rupa dalam suatu wadah yang unik, yang diusung oleh Masyarakat pada perayaan memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW di Masjid Wali Loram Kulon.

Dari uraian tersebut, maka secara karakteristik Ampyang Maulid dapat diartikan sebagai perayaan yang bernuansa da’wah Islamiyah yang dilaksanakan oleh Masyarakat Desa Loram Kulon dalam rangka memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW di Masjid Wali Loram Kulon.

Untuk foto-foto Ampyang Maulid bisa dilihat pada KOLEKSI FOTO AMPYANG di sini.

From: Ansor Loram Kulon

Iklan